Al Qur'an

Q.S. An Nur/24 : 31

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya, dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya."

QS. Al Ahzab/33 : 59

"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang."

Friday, September 28, 2007

Mendagri Italia Tolak Tuntutan Agar Jilbab Dilarang

Di tengah makin meningkatnya gelombang anti-jilbab di Barat, Menteri Dalam Negeri Italia Giuliano Amato menyatakan menolak permintaan agar diberlakukan larangan berjilbab di tempat-tempat umum di negara itu.

"Jika kita mau melarang jilbab di tempat-tempat publik, maka akan segera muncul pertanyaan, 'mengapa seorang biarawati dibolehkan mengenakan apa yang menjadi kebiasaannya, sedangkan muslimah tidak', " ujarnya pada seperti dilansir surat kabar La Stampa.

Mendagri mengatakan bahwa konsitusi Italia menjamin kebebasan beragama dan menjalankan ibadah. Kalau ada larangan berjilbab, maka larangan harus dikenakan pada semua orang baik muslimah maupun biarawati.

"Jika seorang muslimah sakit dan dirawat di rumah sakit, dia tidak boleh mengenakan jilbab, sementara seorang biarawati dibolehkan, " kata Amato yang mencontohkan adanya ketidakadilan penerapan hukum.

Amato menambahkan, ia tidak setuju kalau yang dikenakan adalah cadar, tapi tidak masalah jika yang dikenakan hanya jilbab.

Belakangan ini, kelompok-kelompok kiri gencar mengkampanyekan anti-jilbab yang diidentikan dengan teror dan anti-integrasi. Kampanye itu dilakukan Partai Lega Nord, yang mengumpulkan tanda tangan untuk menentang jilbab. Partai itu juga meminta agar kaum perempuan yang mengenakan cadar ditangkap dan didenda.

Diperkirakan, saat ini ada sekitar 1, 2 juta Muslim di Italia, termasuk 20. 000 mualaf. (ln/iol)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/mendagri-italia-tolak-tuntutan-agar-jilbab-dilarang.htm

Wednesday, August 15, 2007

Pengadilan Jerman Larang Jilbab di Distrik North Rhine-Westphalia

Pengadilan administratif Jerman mengesahkan larangan mengenakan jilbab di wilayah North Rhine-Westphalia, Selasa (14/8).

Pengadilan itu digelar, setelah seorang guru di wilayah tersebut mengajukan gugatan hukum karena tidak diizinkan mengenakan jilbab saat mengajar. Para hakim di pengadilan tersebut, menolak argumen yang diberikan guru tersebut, yang mengatakan bahwa jilbab yang dikenakannya adalah "asesori busana" dan merupakan simbol dari keyakinan agamanya.

Pada bulan Juni kemarin, pengadilan yang sama juga memutuskan untuk mendukung larangan berjilbab, dengan alasan seorang guru yang tampil di muka umum dengan mengenakan busana terkait dengan keyakinan agamanya, merupakan pelanggaran terhadap konsep netralitas dan sekularisme.

Dalam sidang tersebut, pengadilan juga menyatakan bahwa larangan terhadap penggunaan penutup kepala di North Rhine-Westphalia, juga termasuk larangan mengenakan semacam topi baret bagi para guru.

Dari 16 negara bagian di Jerman, delapan negara bagian menyatakan melarang jilbab. Tapi, pada bulan Juli kemarin, pengadilan Baden Wuerttemberg mencabut larangan jilbab yang diberlakukan sejak tahun 2004. Pengadilan menyatakan, larangan itu dicabut karena penerapannya diskriminatif, larangan hanya dikenakan pada warga Muslim dan tidak pada para suster Katolik yang juga mengenakan penutup kepala mirip jilbab. (ln/Islamicity)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/pengadilan-jerman-larang-jilbab-di-distrik-north-rhine-westphalia.htm

Friday, August 10, 2007

Makin Banyak, Kaum Perempuan Aljazair yang Pilih Kenakan Jilbab

Kaum perempuan di Aljazair, kini makin banyak yang lebih memilih tradisi kehidupan Muslim dan mengenakan jilbab.

Surat kabar lokal el-Khabar memuat data statistik yang menunjukkan bahwa 50 persen kaum perempuan di kota-kota besar di Aljazair memilih mengenakan jilbab. Sementara secara nasional, lebih dari 97 persen kaum perempuan Al-Jazair kini sudah mengenakan jilbab.

Sejak tahun 1970-an dan 1980-an, jilbab kembali menjadi trend di Al-Jazair. Namun belakangan ini, jilbab menjadi persoalan tersendiri di negara tersebut. Kaum perempuan yang mengenakan jilbab, banyak yang mengeluh bahwa mereka mengalami diskriminasi saat mencari kerja.

Menurut el-Khabar, perusahaan-perusahaan asing tidak mau menerima calon pegawai yang mengenakan jilbab. Sementara di perusahaan-perusahaan lokal dan kantor-kantor swasta, pegawai perempuan yang berjilbab sering diremehkan.

Pemerintah Aljazair sendiri kurang mendukung kaum perempuan yang mengenakan jilbab. Beberapa bulan yang lalu, Abdulaziz Bouteflika bahkan melontarkan pernyataan provokatif. Ia menyatakan bahwa "jilbab atau kerudung bukanlah busana nasional" Al-Jazair.

Di sejumlah kota di Aljazair, masyarakatnya sebagian ada yang mendukung jilbab dan ada yang tidak. Tapi di wilayah-wilayah gurun, kaum perempunan mengenakan busan khas yang menutup seluruh tubuh, kecuali dua bola matanya saja yang terlihat. (ln/middleeast-ol).

Source : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/makin-banyak-kaum-perempuan-aljazair-yang-pilih-kenakan-jilbab.htm

Wednesday, April 25, 2007

Menggunakan Burka Dilarang Naik Bus

25/04/2007 16:26 WIB

Rita Uli Hutapea - detikcom

Stockholm - Gara-gara mengenakan burka, seorang wanita dilarang naik ke bus penumpang di Kota Malmoe, Swedia. Alasannya, sopir bus tidak bisa mengenali wanita itu dengan burka yang dipakainya.

"Saya sebelumnya tidak pernah harus mengenalkan diri saya di bus umum. Memakai burka adalah pilihan pribadi saya dan itu tidak membuat saya lebih mengancam daripada orang lain," ujar wanita yang tidak disebutkan namanya itu kepada harian Swedia, Metro.

Burka merupakan jubah khas Arab yang menutupi seluruh tubuh dan wajah pemakainya dan hanya menyisakan celah di kedua matanya untuk bisa melihat.

Meski sopir bus berupaya melarangnya naik, namun wanita itu bersikeras naik ke bus. Ketika dirinya berhasil naik, wanita itu masih harus mengalami penghinaan dari sopir. Buntutnya, wanita tersebut melaporkan insiden ini ke kepolisian Swedia.

Menurut Daniel Stjernfeldt, juru bicara perusahaan bus Arriva tersebut, versi sang sopir atas kejadian itu tidak sama dengan versi wanita tersebut. Dikatakan juru bicara itu, sopir tersebut saat ini tengah dinonaktifkan menunggu investigasi selesai.

"Jika apa yang dikatakan wanita itu benar-benar terjadi, maka ini tindakan yang tidak bisa diterima. Semua orang bisa menggunakan bus," tegas Stjernfeldt. Sebabnya, tidak ada aturan yang menyatakan para penumpang harus memperkenalkan diri mereka di bus-bus umum.(ita/nrl)

Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/25/time/162610/idnews/772580/idkanal/10

Friday, April 13, 2007

Sipir Penjara Kanada, Pilih Jilbab Ketimbang Pekerjaannya

Jumat, 13 Apr 07 13:44 WIB



Ini mungkin bukan berita anyar, karena terjadi di bulan Maret 2007 lalu. Tapi berita ini penting untuk menambah semangat mengenakan busana Muslimah.

Adalah Sandes Abdul Lathif (19), seorang sipir penjara wanita di sebuah penjara Kanada, ia meninggalkan pekerjaannya untuk sebuah niat suci yang diyakini kebenarannya. Ia memilih untuk memakai jilbab meski harus meninggalkan jabatannya di penjara.

Peristiwa ini dibenarkan oleh wakil menteri keamanan di Quebeck, Kanada yang menyayangkan apa yang dilakukan sipir penjara perempuan itu.

Menurut para petugas penjara di lokasi yang berdekatan dengan kota Montreal itu, penjara tempat Muslimah itu bertugas memang menerapkan disiplin dan hukum yang ketat terkait penggunaan jilbab bagi petugas penjara. Petugas penjara, menurut mereka, dilarang berjilbab karena jilbab bisa digunakan untuk mencekik atau sebagai senjata bila ada di antara para tahanan.

Muslimah tersebut sebelumnya telah dipanggil untuk menghadap pimpinan pengelola p enjara dan diminta untuk memilih apakah ia akan tetap memakai jilbab atau meneruskan tugasnya di penjara. “Kepala penjara mengatakan pada saya, 'kamu boleh memilih, melepas jilbab atau tidak bekerja di sini.' " iapun menjawab mantap, “Saya memilih untuk tidak bekerja di sini. ”

Beberapa waktu belakangan, jilbab menjadi perdebatan yang cukup ramai di Kanada. Terlebih ketika seorang atlit olahraga sepak bola yang usianya baru 11 tahun dikeluarkan dari lapangan kompetisi, lantaran memakai jilbab.

Hingga saat ini, berdasarkan sensus, Kanada mencatat kelipatan besar jumlah umat Islam. Saat ini jumlah mereka sudah mendekati 600 ribu jiwa dari total penduduk yang berjumlah 30 juta jiwa. Islam telah menjadi agama yang paling pesat pertumbuhannya di Kanada. (na-str/egyptwnd)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/int/461e4884.htm